Tuesday, May 22, 2018
Home tokoh Mbah Liem bangunkan KH Hasyim Asy’ari untuk bantu Gus Dur

Mbah Liem bangunkan KH Hasyim Asy’ari untuk bantu Gus Dur

0
52

 

Muktamar NU ke -29 tanggal 1-5 Desember 1994 di Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat bisa dibilang Muktamar yang paling menegangkan dan terpanas dalam sejarah Muktamar NU, pada Muktamar tersebut merupakan puncak terjadinya kedzoliman rezim orde baru terhadap NU, NU dan sosok Gus Dur di pandang oleh Soeharto sebagai ganjalan, ancaman yang membahayakan akan segala niat jahat Soeharto dan sangat ditakuti Soeharto, maka dengan kekuasaannya, Soeharto menginnginkan agar Gus Dur tumbang.

Segala daya upaya Soeharto dengan rezimnya melakukan usaha – usaha untuk menjegal Gus Dur kembali menjadi Ketua Umum PBNU, mula – mula Soeharto mendorong tokoh NU yang sudah berada di Golkar Chalid Mawardi, namun ternyata Chalid Mawardi tidak mendapat respon positif dari peserta Muktamar, maka Soeharta selanjutnya mengajukan Abu Hasan orang yang tidak jelas garis ke – NU- annya.
Menurut penuturan KH. A.CH Syaifuddin Zuhri beliau menceritakan pada saat Muktamar Cipasung ketika ada jamuan makan di rumah KH. Ilyas Ruhyat, Mbah Lim sempat marah-marah kepada Chalid Mawardi, Mbah Lim melempar piring ke arah muka Chalid Mawardi yang nota bene orang NU yang aktif di Golkar.
KH. A.CH Syaifuddin Zuhri yang akrab dipanggil Gus Zuhri merupakan putra Mbah Lim yang saat itu mendampingi sekaligus menjadi penjelas dawuh-dawuh (ucapan-ucapan) Mbah lim juga menuturkan saat kejadian di puncak muktamar pada waktu penghitungan suara, di mana perolehan suara Gus Dur tertinggal terus dengan perolehan suara Abu Hasan, para Kyai pendukung Gus Dur sudah mulai gundah gulana dan pasrah, mereka pada mulai meninggalkan arena Muktamar dengan raut muka yang sangat sedih. Pada saat itulah ada sekelompok pemuda/romli “ rombongan liar” muktamar menghampiri Mbah Lim yang tetap setia berada di arena muktamar, mereka berkata ke Mbah Lim “ Mbah pripun niki Gus Dur mau kalah”,(Mbah bagaimana ini Gus Dur mau kalah) “wis rasah kakehan polah, ayo ndungo bareng, nangekke Mbah Hasyim” (sudah jangan banyak tingkah ayo berdo’a bersama membangunkan Mbah Hasyim) saut Mbah Lim. Mbah Lim pun segera mengajak berdo’a bersama, setelah membaca basmalah, Syahadat dan sholwat bersama, sekelompok pemuda tadi mengikuti perkataan Mbah Lim selanjunya “ Mbah Hasyim…. Mbah Hasyim…. yen kowe ora lilo kuburanmu di uyuhi uwong! Tangio.. tangio… ewangono putumu ben menang, alfaaatekhah……!“ ( Mbah Hasyim…..Mbah Hasyim…… kalau kamu tidak rela kuburanmu di kencingi orang! Bangun.. bangun..! bantu cucumu biar menang) Subhanalloh Allahu akbar lalu apa yang terjadi setelah Mbah Lim berdo’a…? perolehan suara Gus Dur langsung mengejar perolehan suara Abu Hasan dan akhirnya Gus Dur Unggul Menang, menyingkirkan rival bonekanya Soeharto, Abu Hasan.
Selain itu Gus Zuhri menambahkan cerita lain tentang Mbah Lim, saat Gus Dur di hantarkan Mbah Lim ziarah ke Makam Mbah Hasyim Asy’ari di jombang sekitar tahun 1983, pada saat itu Mbah Lim membawa 10 MAP yang di dalamnya terdapat tulisan Mbah Lim. Sesampai di makam Mbah Hasyim, Mbah Lim berkata ke Gus Dur (yang merupakan isi tulisan yang ada di dalam MAP) “ Gus.. Gus kowe ojo ngaku putune Mbah Hasyim yen ora iso ngatur negoro iki ”( Gus.. Gus kamu jangan mengaku cucunya Mbah Hasyim kalau tidak bisa mengatur negara ini ) selanjutnya 9 MAP dikasihkan ke Gus Dur dan 1 MAP di arsip oleh Mbah Lim. Wallahu a’lam bishowab setahun kemudian tepatnya pada tahun 1984 di Muktamar ke 27 di Situbondo Gus Dur terpilih menjadi Ketua Umum PBNU dengan khithoh NU nya. Gus Dur di minta Mbah Lim memimpin NU hingga 3 periode untuk mengawal Khitah NU agar semakin jelas.
Menurut Gus Zuhri “ Mbah Lim itu selalu berada di belakang untuk membela Gus Dur tetapi Mbah Lim juga tidak segan – segan untuk mengingatkan Gus Dur bila dipandang salah/keliru.
Kisah tersebut menjadi sejarah penting yang terkadang banyak orang belum mengetahui bahwa Mbah Lim mempunyai peran penting dibalik perjalanan hidup Gus Dur dalam mengurus NU dan Bangsa ini. Semoga kita bisa meneladani pelajaran-pelajaran penting dari dua sosok kekasih Allah swt tersebut. Lahumal faatehahh….

Penulis Ali Mahbub, Wonogiri.
Nara sumber KH.A.CH Syaifuddin Zuhri Putra Mbah Lim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here