7 Tanggungjawab Guru dalam mendidik

0
23

Perkara mendidik tidak cukup sebatas memberikan materi normatif setiap hari demi memenuhi beban mengajar. Tetapi perlu adanya tanggung jawab besar dari guru dan stakeholders pendidikan agar tujuan pendidikan nasional bisa tercapai.

Hal itu ditegaskan Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) KH Asep Saifuddin Chalim, Jumat (4/5) saat memberikan sambutan pada kegiatan Rakernas ke-2 Pergunu di Asrama Haji Al-Mabrur Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

“Perlu adanya tanggung jawab besar untuk memenuhi tujuan pendidikan nasional. Tanggung jawab ini harus dilakukan bersama-sama, terutama oleh para guru NU dan guru-guru di seluruh Indonesia,” ujar Kiai Asep.

Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet, Mojokerto, Jawa Timur ini memaparkan tujuh tanggung jawab besar tersebut. Tanggung jawab besar dimaksud bisa diterapkan, baik oleh guru, kepala sekolah, para pengelola dan pengambil kebijakan pendidikan.

Pertama, tanggung jawab dalam upaya penguatan keimanan kepada anak didik. Menurut Kiai Asep, tangung jawan keimanan ini yang akan mewujudkan generasi berkarakter.

“Keimanan akan menumbuhkan ketakwaan sehingga akan mewujudkan tujuan pendidikan nasional dalam mencetak generasi-generasi berkarakter,” tuturnya.

Kedua, tanggung jawab akhlakul karimah. Upaya pembentukan akhlakul karimah ini akan mewujudkan anak-anak dengan disiplin tinggi dan bertanggung jawab. “Tanggung jawab akhlakul karimah ini juga akan menjaga perkataan dan perbuatan anak didik agar menjadi lebih baik,” terang Kiai Asep.

Ketiga, tanggung akademis. Tanggung jawab akademis guru terkait dengan profesionalisme dan kompetensinya. Guru wajib menyampaikan materi agar anak didik mampu memahaminya. Artinya, materi pelajaran dikemas sedemikian rupa agar siswa mampu menerimanya dengan baik.

Keempat, tanggung jawab kecerdasan. Tanggung jawab ini akan terwujud bila seorang guru tak sekali memeberikan pemahaman kepada siswa. Di sini faktor pengayaan berperan penting. Siswa diarahkan untuk memperkaya materi agar memahami berkali-kali.

Kelima, tanggung jawab kesehatan. Dalam dunia pendidikan, sekolah wajib memberikan menyehatkan jasmani dan rohani anak didik. Tanggung jawab ini menurut Kiai Asep bisa melalui olahraga yang tiap minggu dilakukan. “Juga bisa memperdalam pencak silat, misalnya,” ujar Kiai Asep.

Keenam, tanggung jawab seni. Seni menurut Kiai Asep juga bagian dari upaya membentuk generasi-generasi agar mempunyai perangai yang halus. “Ini sangat terkait dengan agama juga karena agama berupaya membentuk anak agar memiliki perilaku lemah lembut,” jelasnya.

Ketujuh, tanggung jawab kreativitas. Kreativitas lahir dari pikiran yang selalu berusaha kritis. Menurut Kiai Asep, kreativitas ini tidak perlu diajarkan tetapi dipahamkan kepada anak didik. Kreativitas ini bisa diolah dari tanggung jawab akademik dengan tanggung kecerdasan.

“Lalu kedua tanggung jawab tersebut digerakkan dengan mesin kecerdasan, maka akan mewujudkan generasi berkualitas,” tandas penulis buku Membumikan Aswaja: Pegangan Para Guru NU ini. (Fathoni)

Sumber: nu online.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here