Filosofi Ketupat Demak

0
30
Komisioner Panwaslu Demak

Oleh: Ulin Nuha, SH,MH
Di Kabupaten Demak ada beberapa tradisi tentang merayakan hari raya. Meski masih dalam lingkup kabupaten, beda kecamatan (bahkan beda desa) beda pula cara merayakannya. Dulu saat masih di Wedung saat hari raya tidak ada kebiasaan bikin ketupat, yang ada ya hanya masak daging dibikin rendang atau asem-asem (biasanya daging kerbau) hasil beli dari pasar atau menyembelih ayam sendiri lalu dimasak opor ayam, kemudian di makan sama nasi setelah shalat ied.

Ketupat hanya dibikin saat syawalan atau seminggu setelah hari raya. Biasanya orang-orang setelah shalat subuh akan berbondong-bondong ke masjid sambil membawa kupat dan lepet untuk di doakan oleh kyai setempat, setelah itu dibawa pulang untuk dimakan bersama keluarga.
Tapi di desa tempat asal istriku yang hanya beda kecamatan, budaya dalam merayakan lebaran agak berbeda. Disini saat hari raya, orang-orang sudah bikin ketupat. Setelah shalat subuh dan sebelum ke masjid untuk shalat ied, mereka berkumpul di musholla sambil membawa ketupat plus opor ayam dan sambal goreng. Setelah didoakan kemudian dinikmati bersama, jadi ketika berangkat shalat ied perut sudah dalam keadaan kenyang.

Pada saat syawalan atau seminggu setelah hari raya, warga disini juga akan membuat ketupat lagi. Prosesnya juga sama, setelah shalat subuh kita berkumpul di musholla atau masjid sambil membawa ketupat plus opor dan sambal goreng. Setelah didoakan kemudian dinikmati bersama-sama. Jadi dalam satu minggu dua kali warga membikin ketupat saat lebaran dan syawalan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here