777 (Tujuh Tujuh Tujuh), Mendidik Anak dalam Prespektif Islam

0
69

Oleh: Ibnu Samsul Huda, SS, MA ( Dosen Universitas Negeri Malang/Mahasiswa S3 di UIN Maliki Malang)

Umar Ibn al-Khaththab radhiyallahu anhu berkata :
لاَعِبْ اِبْنَكَ سَبْعاً، وَأَدِّبْهُ سَبْعًاً، وَآخِهِ سَبْعاً، ثُمَّ أَلْقِ حَبْلَهُ عَلَى غَارِبِهِ
Ajaklah anakmu bermain selama tujuh tahun, didiklah selama tujuh tahun, dan jadikanlah sahabatmu selama tujuh tahun, kemudian lemparkanlah tali kekang anakmu pada punggungnya (bebaskan ia).

Umar Ibn al-Khaththab radhiyallahu anhu sebagai orang yang sangat dekat dengan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah merumuskan teori pendidikan dalam perspektif islam jauh sebelum teori-teori modern bermunculan.

Pada periode pertama pendidikan anak, TUJUH PERTAMA (sejak lahir sampai usia tujuh tahun) Islam menganjurkan orang tua untuk mengajak anak bermain. Kata laaib merupakan bentuk amr (kata perintah) dari kata laa’aba-yulaaibu-mulaa’abah, memiliki arti mengajak bermain yang ada gunanya (baca: sambil mendidik dan menanamkan karakter padanya). Pemilihan kata laa’aba ini sekaligus untuk membedakannya dari kata lahaa-yalhuu-lahwun yang memiliki arti permainan sia-sia.

Dalam usia ini orang tua tidak dibenarkan memperlakukan anak dengan pendidikan yang terlalu keras, seperti memaksakan anak berfikir secara logis sebanding dengan penalaran orang tua. Orang tua sebaiknya menanamkan karakter anak melalui pembiasan-pembiasan perilaku terpuji di sela-sela bermain dengannya. Jadi, merupakan perilaku yang tidak tepat untuk mencubit dan membentak anak-anak pada usia ini karena kesalahan-kesalahannya.

Pada periode kedua pendidikan anak, TUJUH KEDUA (usia delapan sampai empat belas tahun) Islam memerintahkan orang tua untuk mendidik anak secara tegas bahkan terkadang perlu keras. Kata addaba-yuaddibu-ta’diiban dalam bahasa Arab mengandung arti pendidikan bukan pengajaran (rabba-yurabbi-tarbiyah). Kata adab sendiri dalam tradisi bahasa Arab telah mengalami perubahan arti dari perjamuan makan, tata krama, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan sastra. Secara global, kata adab mengarah pada seluruh aktifitas manusia yang baik dan terpuji. Sedangkan secara kontekstual kata addibhu disini berarti pendidikan dan pengajaran, didiklah dia.

Periode ini merupakan masa emas pendidikan anak, jika salah dalam mendidik anak pada periode ini, maka akan sulit membentuk karakternya di usia berikutnya. Jika diibaratkan membuat roti, periode pertama adalah mengaduk bahan-bahan dan membentuknya menjadi adonan yang siap masuk oven. Periode kedua adalah proses memanggang roti di dalam oven. Orang tua sebagai pemanggang roti harus selalu menjaga api agar selalu menyala sesuai dengan kebutuhan, agar roti bisa matang sempurna, tidak bantat, ataupun gosong. Terkait dengan pendidikan anak pada usia ini, Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam bersabda: “Perintahlah anakmu untuk shalat pada usia tujuh tahun, dan pukulah dia jika sudah berusia sepuluh tahun (dan tidak mau melaksanakan shalat) serta pisahkanlah ranjang mereka. Jadi dalam periode ini orang tua harus tegas dalam mendidikan anak, bahkan kita diperbolehkan mencubit ataupun memukul anak jika omongan tidak lagi didengarkan. Adalah sebuah ironi yang begitu memprihatinkan jika ada seorang guru yang dipenjarakan orang tua murid gara-gara terpaksa mencubit anaknya untuk mendidik.

Pada periode ketiga pendidikan anak, TUJUH KETIGA (usia lima belas sampai dua puluh satu tahun) Islam memerintahkan orang tua untuk menjadikan anak sebagai teman. Kata aakha-yuaakhi-ikhaaun/shaahaba-yushaahibu-mushaahabah memiliki arti menjadikan seseorang sebagai teman atau sahabat . Anak-anak pada usia ini tidak bisa lagi diperlakukan terlalu keras, karena ia akan mencari pelarian pada hal-hal yang bisa membahayakan dirinya. Orang tua harus bisa menjadi teman curhat yang baik bagi sang anak, membimbing dengan kesetaraan dalam berargumentasi. Dengarkan dan hargailah pilihannya jika tidak bertentangan dengan norma, etika, dan agama.

Periode berikutnya adalah periode dimana orang tua harus ikhlas menjadikan anaknya mandiri, ketika anak sudah mencapai usia dua puluh dua tahun ke atas, anak sudah dianggap matang dengan melalui pendidikan di tiga periode sebelumnya. Redaksi yang dipilih Sahabar Umar radhiyallahu anhu adalah “LEMPARKAN (LETAKKAN) TALI KEKANGNYA DI ATAS PUNGGUNG”, artinya biarkan dia mandiri mencari kebahagiaan terindahnya. Orang tua harus siap melepaskan dia sebagai pribadi yang mandiri dengan penuh tanggung jawab.

Kata, melemparkan (meletakkan) tali di atas punggung itu merupakan majaz (isti’aarah) yang berarti membebaskan dengan tetap mengawasi, kalau dia menyimpang harus diluruskan(menarik tali kekangnya sesekali waktu). Nasehatilah ia tetkala perlu dinasehati namun janganlah mencampuri urusannya terlalu jauh. Apalagi ketika anak sudah berumah tangga, biarkan dia berproses menuju jati diri keluarganya yang sakinah mawaddah warahmah dalam perspektif dia, bukan orang tuanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here