Iman,Islam & Ihsan; Aqidah,Ibadah & Akhlak

0
50

Oleh: Ibnu Samsul Huda

( Alumni Al Islam Joresan Ponorogo Tahun 1998.)

Pokok-pokok ajaran Islam secara ringkas bisa dikategorisasikan ke dalam tiga pilar; iman, islam, dan ihsan (Trilogi Keislaman).

Iman berkaitan dengan hal-hal yang harus diyakini seorang muslim, keimanan terkait dengan sesuatu yang tidak kasat namun nyata adanya. Karena berkaitan dengan sesuatu yang tidak kasat, maka kepercayaan terhadapnya hanya bisa dimiliki seseorang yang mendapat hidayah, petunjuk dari Allah _subhanahu wa ta’ala…_

Setiap manusia sebenarnya didesain memiliki potensi berada pada wilayah yang tak kasat namun nyata (hal-hal ghaib). Dinamika hidup manusia dengan potensi ruhani _(ghaibiyyat)_ telah ada semenjak zaman azali ketika ditiupkan ruh ke dalam dirinya _(tsumma sawwahu wa nafakha fiihi min ruuhihi)_

Jika kita mengkaji secara mendalam Surat as-Sajdah; ayat 7-9, sebenarnya ini menjelaskan klasifikasi tiga alam yang dimiliki manusia sebagaimana dijelaskan ilmuan psikologi modern, yaitu alam sadar _(wa ja’ala lakum as-sam’a wal abshar)_, alam bawah sadar _(wal af’idah)_, dan alam tidak sadar _(nafakha fiihi min ruuhihi)_..

Setiap manusia ketika membawa dirinya ke alam bawah sadar, sebenarnya telah masuk pada hal yang “ghaib”, dia akan menemukan (baca:merasakan) hal-hal yang tidak kasat namun nyata adanya..

Rasa inilah yang menjadikan manusia diberi amanah _(taklif)_ untuk memiliki kesadaran dan kepercayaan akan sesuatu yang tidak kasat namun nyata, itulah keimanan, landasan akidah umat Islam….

Iman kepada Allah..
Iman kepada Malaikat…
Iman kepada (kebenaran) Kitab Suci….
Iman kepada (keterutusan) Rasul…
Iman kepada hari akhir…
Iman kepada Qadha’ dan Qadar….

Semuanya tidak mungkin bisa dilihat secara kasat namun dengan hati yang bersih, ketika kita bermunajat… kita akan merasakan keberadaannya….

Setiap ibadah sebenarnya adalah proses transmisi dari kesadaran kemanusiaan menuju ketidaksadaran, atau jika dibalik dari ketidaksadaran ketuhanan menuju kesadaran ketuhanan…

Penanaman akidah yang benar sangat penting bagi pribadi muslim… karena kesalahan dalam berakidah bisa membawa diri pada kesalahan beribadah (keislaman yang salah), seperti melakukan bom bunuh diri dengan mengorbankan istri dan anak-anak…
Memahami ayat jihad secara radikal yang berujung pada keyakinan bahwa seseorang akan syahid ketika melawan kebathilan dengan mengorbankan nyawa (baca:perang), tanpa melihat instrumen konteks dan kemaslahatan..

Sedangkan islam adalah periku ketundukan dan kepatuhan terhadap perintah Tuhan dengan dasar keimanan…
Tidak mungkin seseorang akan tunduk dan patuh, mau beribadah ketika dia tidak percaya esensi keberadaan sesuatu yang tidak kasat namun nyata, percaya terhadap enam pilar keimanan di atas….

Sedangkan Ihsan adalah kebaikan yang muncul akibat melaksanakan dua fondasi iman dan islam… seseorang yang memiliki keyakinan akan hal-hal yang tidak kasat namun nyata, akan beribadah secara yakin dan tulus… sadar sepenuhnya bahwa apapun perilaku yang dikerjakannya semua dalam pengawasan Allah _subhanahu wa ta’ala_, siapun yang tidak taat (berdosa) akan mendapatkan balasan di hari kiamat, hari penghitungan amal, hari pembalasan….

Kompetensi untuk bisa menyembah Tuhan seolah-olah melihatnya, dan kesadaran diri sepenuhnya bahwa perilaku ibadah kita dilihat oleh Tuhan adalah buah manis dari keimanan dan keislaman seseorang…

_U’budullaaha ka annaka taraahu… wain lam takun taraahu fainnahu yaraaka…_

Ihsan inilah yang kemudian mengejawantah dalam akhlaq seseorang, akhlaq kepada Tuhan, kepada sesama manusia, dan alam disekitarnya….

Puasa sejatinya adalah pelatihan diri untuk bisa bertransmisi dan mengontrol diri ketika beribadah dari alam sadar… menuju alam bawah sadar… bahkan menuju alam tidak sadar…

Puasa pada tataran awal merupakan ibadah jasadiyah.. dengan memutus keinginan jasmani manusia, tidak makan dan minum serta menahan nafsu biologis….

Proses pendadaran jasad ini sebenarnya merupakan kebutuhan manusia untuk bisa mengontrol ruhaninya menjadi baik… mendidik alam bawah sadar manusia untuk selalu berbuat baik.. karena sesuatu yang secara kasat terlihat baik, terkadang secara tidak kasat bernilai tidak baik.. ini karena manusia tidak bisa mengontrol alam bawah sadarnya… seorang yang secara kasat beribadah, semua akan sia-sia ketika alam bawah sadarnya tidak tulus mengabdi kepada Tuhan, seperti menginginkan pujian dari orang lain, riya’ dan takabbur….

Dalam klasifikasi sufistik, puasa merupakan pendidikan manusia untuk bisa mengelola dirinya dalam tiga dimensi alam… _Nasuut/Malak, Malakuut_, dan _Jabaruut_.

_Malak_ adalah alam kasat dimana manusia beramal dalam kesadaran kemanusiaannya…. inilah yang dalam bahasa agama disebut syari’at…

Dalam tataran ini sah atau tidaknya ibadah diukur dari kebenaran jasadiyahnya.. Shalatnya orang yang lupa mengingat Tuhan, tetap sah… asalkan syarat rukun fisiknya terpenuhi.. puasanya penggunjing tetap sah, asalkan dia tidak makan dan minum serta menyalurkan hawa nafsu terhadap pasangannya…

Puasa adalah pendadaran jiwa yang jika dilakukan secara utuh akan membawa manusia bertransmisi masuk dan mampu mengontrol dirinya secara ruhani… masuk di alam _malakuut,_ tempat bersemayamnya hal-hal _ghaib_ yang tercipta dari Allah _subhanahu wa ta’ala…_ Dia berada di alam bawah sadar manusia…

Manusia dengan _thariqah_ puasa, dengan kesempurnaan totalitas jasad dan ruhnya, akan masuk dalam alam ketuhanan (bukan alam Tuhan secara esensi)…

Dalam terminologi sufistik alam _jabarut_ adalah tempat seorang hamba mencapai ma’rifat dengan mengetahui hakekat kemanusiaan yang sempurna _(insaan kaamil)_, manusia akan mendapat pemahaman qur’ani sebagaimana keagungan diturunkannya al-Qur’an, _Lailatul Qadr,_ diturunkannya esensi pemahaman Qur’ani ke dalam jiwa…. sebagaimana malam yang lebih baik dari seribu bulan….

Selain ketiga alam di atas, dalam terminologi sufistik ada yang disebut alam _Laahuut_, alam Tuhan… ini adalah alam yang hanya bisa dilihat oleh Baginda Rasulullah Muhammad _shalallahu ‘alaihi wa sallam.._
Apapun fikiran manusia terhadap alam ini.. sudah bisa dipastikan, “pasti salah”…
Namun manusia harus yakin dengan esensi keberadaaan Tuhan tanpa harus membayangkan “jasad”nya…

Puncak pencapaian tertinggi seorang sufi berada pada alam _Jabarut_, alam arwah… sebagaimana Ibnu Arabi dengan konsep _Wahdatusy Syuhud_ dan al Hallaj dengan _Wahdatul Wujud_….

Dalam konsep ilmuan Islam Modern….
Al-Jabiri mengklasifikasi cara mendapatkan pengetahuan dengan tiga model perolehan, Epistemologi Bayani, Epistemologi Burhani, dan Epistemologi ‘irfani….

Epistemologi Bayani adalah perolehan ilmu pengetahuan berdasarkan pemahaman teks dengan metode _istidlal_, wujudnya adalah _Syari’at_…

Epistemologi Burhani adalah pemerolehan pengetahuan berdasarkan pada pemikiran dan perenungan mendalam _(ta’qiluun, tatafakkarun, tatadabbaruun)_ buah dari ini semua adalah pengetahuan kebenaran secara filosofis, hakekat….

Sedangkan Epistemologi ‘irfani adalah pengetahuan yang langsung didapatkan manusia dari hasil pelatihan jiwa raga _(riyadhah)_… laku sepiritual yang akan menghantarkannya pada maqam _Ma’rifat…._

_Wallahu ‘alam bish shawab…._

Malang, 01 Juni 2018
(Dikembangkan dari Ceramah Subuh Ramadhan, di Masjid al Ghazali, Tlogomas-Malang)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here