Al Aqsho Klaten Masjid Digital Umat Milenial

0
46

Oleh: Muhammad Milkhan

Di masjid al-Aqsa Klaten ada pamflet ajakan iktikaf. Sepuluh hari terakhir bulan Ramadan ajakan untuk memakmurkan masjid akan diisi dengan beberapa agenda, termasuk kajian agama oleh beberapa ustad ternama.

Daftar agenda kegiatan iktikaf juga sudah terjadwal rapi dalam lembaran pamflet. Pamflet tersebut saya dapati di media sosial instagram. Melihat warna dari design gambar pamflet, serta persebarannya yang juga menggunakan media internet, ajakan tersebut kemungkinan besar ingin menyasar para kawula muda.

Bila di Klaten ajakan itu tanpa disertai uang pendaftaran, berbeda lagi di Banjarnegara tepatnya di masjid at-Taqwa. Para pelajar dan masyarakat umum yang ingin ikut iktikaf diperkenankan membeli tiket sebesar Rp.50.000,-. Dengan uang pendaftaran tersebut, peserta itikaf akan mendapatkan fasilitas makan saur dan buka puasa 4 kali, takjil, kaos gratis, ilmu yang bermanfaat dan teman baru. Ajakan itikaf di Banjarnegara tersebut bertajuk “Itikaf Pelajar Banjarnegara”.

Dua contoh pamflet iktikaf diatas jelas merupakan ikhtiar mulia dalam menjaring pahala di malam mulia Lailatul Qadar. Mengajak orang, utamanya kawula muda agar sudi menyambangi masjid lebih lama, memakmurkannya dengan kegiatan-kegiatan positif di jalan ilahi butuh kreativitas dan kerja keras yang lebih, tentu ini semua patut mendapatkan apresiasi tinggi.

Kaum muda yang kerap abai dengan nasib masjid, diiming-imingi dengan berbagai fasilitas dan kegiatan selama berlangsungnya program iktikaf. Mereka diharapkan akan tertarik untuk turut dalam barisan pendamba ridha Tuhan di hari-hari terakhir ramadan.

Iktikaf memang tak selalu harus dilaksanakan di bulan suci Ramadan, di hari-hari biasa pun kita diperbolehkan untuk melakukan itikaf. Di buku “Menyingkap Sejuta Permasalahan Dalam Kitab Fath al-Qarib” (Lirboyo Pres; 2015), disebutkan bahwa I’tikaf adalah singgah di masjid dengan sifat tertentu. Iktikaf sunnah dilakukan setiap waktu dan lebih utama pada 10 hari terakhir ramadan karena untuk mencari Lailatul Qadar.

Masjid sampai hari ini memang tidak pernah menjadi tempat idola kawula muda, apalagi di era digital, popularitas masjid makin meredup, kalah saing dengan bujuk rayu konten dunia maya yang menampilkan berbagai macam kegiatan pemacu adrenaline darah muda.

Mungkin salah satu sebabnya adalah masjid masih terkesan didominasi oleh kaum tua, dengan kegiatan-kegiatan monoton yang kerap tak mampu membaca konteksutualitas minat kaum muda. Kekauan masjid dalam menampung aspirasi kaum muda menambah keengganan mereka untuk turut memakmurkan masjid.

Modernisasi masjid kebanyakan hanya dalam wujud fisik, maka tak heran bila kawula muda kemudian memaknai keagungan masjid sebatas dalam lensa kamera. Masjid yang bagus fisiknya penting untuk dibidik sebagai background photo diri yang bisa dipamerkan di media sosial.

Digitalisasi masjid dalam biografi diri kaum muda tak ubahnya photo pemandangan alam yang bisa dipamerkan agar dapat menuai pujian dari lian. Mereka enggan untuk meniatkan diri lebih jauh lagi menyelami makna kehadiran diri di masjid, seperti halnya pemandangan alam yang indah, mereka hanya puas dalam ketakjuban akan obyek alam, tanpa peduli dan belajar untuk turut melestarikan alam.

Demikian juga masjid yang sudah terlanjur didokumentasikan dalam photo-photo di media sosial, para pengunjung utamanya kawula muda sudah merasa puas hanya dengan sekali kunjungan dan menghasilkan beberapa jepretan photo semata. Pengabaran photo diri dan masjid adalah dalih pemakmuran masjid agar klaim islamisasi diri dapat diraih.

Kawula muda bisa berjam-jam melakukan ‘ibadah’ di dunia maya, namun mereka kerap tak mampu bertahan lama melakukan ibadah didalam masjid. Bisa jadi ajakan untuk itikaf dalam pamflet-pamflet yang tersebar di tengah-tengah masyarakat akan mendapatkan jumlah peserta yang minim dari golongan kaum muda.

Kita pun bisa menebak, bila kelak kegiatan-kegiatan tersebut akan terdokumentasikan dalam photo-photo yang tentunya juga akan dibagikan di media sosial. Meksipun ini dalih untuk merangsang kawula muda agar terpancing untuk turut mengikuti kegiatan pamakmuran masjid, namun kita bisa memperkirakan hasilnya, bahwa itu mungkin adalah usaha yang sia-sia. Sebab, photo-photo itu hanya akan menghasilkan kumpulan like dan komentar pujian, seperti halnya photo-photo lain yang tersebar di dunia maya, tanpa ada identifikasi refleksi diri yang mendalam, karena memang ini sudah menjadi kebiasaan jamaah masjid digital dalam ibadah mereka di media sosial. Mungkin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here