Ibnu Samsul;Yuk kenali Istilah2 di bulan Ramadhan!

0
27

 

Ibnu Samsul Huda: Dosen Muda Universitas Negeri Malang 

_Imsāk_ dalam bahasa Arab berasal dari kata _amsaka -yumsiku-imsāk_, artinya menahan. Istilah imsak jika difahami berdasarkan konteks penggunaannya bisa dikirakan adanya pelesapan kata yang lengkapnya adalah _tanbīhul imsāk_, peringatan untuk menahan diri. Peringkasan istilah ini sama seperti ketika kita memperingatkan seseorang akan adanya kebakaran dengan teriakan “kebakaran…!!!” Artinya, “peringatan awas ada kebakaran…”

Dalam Ilmu balaghah peringkasan frase seperti ini masuk dalam kajian ilmu ma’ani tentang _ījaz_ (meringkas kata dan kalimat). Salah satu caranya adalah dengan membuang isim mudhaf _(hadf isim mudhāf)_ seperti contoh frase _tanbīhul imsāk_ di atas.

Dalam konteks komunikasi, gaya bahasa _ījaz_ ini sering dipraktekkan karena beberapa alasan, diantaranya _ikhtishār_ (meringkas), _tashīl al-hifd_ (memudahkan menghafal), _taqrīb al-fahm_ (mendekatkan pada pemahaman), _dhīqil maqām_ (waktu yang singkat untuk berbicara), dan _ikhfā’ul amri ‘ala ghairi al-sāmi’_ (menyamarkan sesuatu kepada yang tidak diharapkan memahami kalimat yang dilafalkan).

Puasa _(shiyam/shaum)_ secara bahasa juga berarti _imsāk, al-imsāk ‘an al-syai’_ (menahan dari sesuatu). Ma’na bahasa adalah ma’na yang mendekati, namun tidak bisa mewakili istilah. Jika zakat secara bahasa berarti _an-namā’ waz ziyādah_, maka kata _“an-namā’_ dan _ziyādah”_ tidak bisa digunakan untuk mengganti istilah zakat. Jika dikatakan, “kambing” secara bahasa artinya “hewan berkaki empat “, maka frase “hewan berkaki empat” tidak bisa kita gunakan untuk mengganti istilah kambing. Demikian juga dengan _imsāk_, kata ini tidak bisa menggantikan istilah _shiyām_ atau _shaum_. *Harus dibedakan antara “istilah lain” dengan makna bahasa _(lughawi)_*

Dalam al-Qur’an kata _imsāk_ tidak pernah digunakan untuk menyebut puasa, kata _imsāk_ dengan berbagai derivasinya mayoritas bermakna menahan. Kata _imsāk_ dengan bentuk _mashdar_ disebut satu kali dalam surat al-Baqarah(2): ayat 229, namun tidak ada hubungan maknanya sama sekali dengan puasa. Kata imsaak pada ayat di bawah ini bermakna “menahan” untuk tetap dijadikan sebagai istri dengan ma’ruf. Allah _subhānahu wa ta’āla_ berfirman:

الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ
Talak (yang dapat dirujuk) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi *_(imsāk)_*dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.

Jadi istilah _imsāk_ dalam bulan Ramadhan adalah bentuk _ījaz_ dari frase _tanbīhul imsāk/tanbīhun lil imsāk_. Kemudian diringkas _(diījazkan)_ dengan membuang kata _tanbīhun_ nya, maka yang tersisa hanyalah kata _imsāk_, dari sinilah kemudian istilah *imsak* digunakan.

Jika ada yang bertanya kenapa yang di buang _tanbīhun_ nya, bukan _imsāk_nya? Jawabannya adalah, secara linguistis, _mudhāf ilaihi_ merupan kata utama dalam _tarkib idhafi_. Secara makna dalam perspektif ilmu ma’ani, jika kata _tanbīh_ yang dipakai, akan sulit difami, _tanbīh_/peringatan apa…???. Padahal prasarat _ījaz_ dalam ilmu ma’ani harus jelas dan tidak merusak pemahaman _(la yukhillu bil fahmi)_.

Istilah *imsak* memang tidak dikenal pada masa Rasulullah _shalallāhu ‘alaihi wa sallam_, sama halnya dengan istilah *shalat tarawih* yang tidak ada di jaman Nabi _shalallāhu ‘alaihi wa sallam_, istilah yang digunakan adalah _qiyāmul lail (man qāma ramadhāna īmānan wahtisāban ghufira lahu mā taqaddama min dzanbihi)_.

*Dasar kesunnahan imsak* adalah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari berikut ini.

حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ صَبَّاحٍ سَمِعَ رَوْحَ بْنَ عُبَادَةَ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَزَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ تَسَحَّرَا فَلَمَّا فَرَغَا مِنْ سَحُورِهِمَا قَامَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الصَّلَاةِ فَصَلَّى قُلْنَا لِأَنَسٍ كَمْ كَانَ بَيْنَ فَرَاغِهِمَا مِنْ سَحُورِهِمَا وَدُخُولِهِمَا فِي الصَّلَاةِ قَالَ قَدْرُ مَا يَقْرَأُ الرَّجُلُ خَمْسِينَ آيَةً (رواه البخاري)

Dalam hadits yang diriwayatkan Anas bin Malik di atas dikisahkan bahwa Rasulullah _shalallahu ‘alaihi wa sallam_ makan sahur bersama Zaid bin Tsabit, kemudian setelah selesai makan sahur beberapa saat Nabi Muhammad _shalallahu alaihi wa sallam_ melakukan shalat subuh. Ketika Anas bin Malik ditanya berapakah jeda antara keduanya (makan sahur dan shalat subuh), Anas menjawab: jedanya sebanding dengan lamanya orang membaca sekitar lima puluh ayat al-Qur’an.

Dari hadits di atas kemudian ulama’ _salafus shalih_ berijtihad bahwa waktu imsak sekitar 10 menit (sama dengan lamanya orang membaca 50 ayat al-Qur’an).

*Penjadwalan waktu imsak merupakan perilaku _ikhtiyath_ (kehati-hatian), agar orang yang puasa tidak sedang makan ketika adzan subuh tiba-tiba dikumandangkan. Dasar kesunnahannya adalah hadits shahih di atas.*

_Wallahu ‘alam bish-shawab_

Tulisan ini merupakan potongan materi ke-23: _“Istilah-Istilah di Bulan Ramadhan”_ yang disampaikan pada kajian rutin minggu pagi setelah shalat subuh: _Belajar Bahasa Arab dengan Metode al-Kasysyaf_ di *Masjid al-Ghazali*, Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here